Sunday, August 30, 2015

AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW

AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW dalam coretan Cerita Auliya ini jika dikupas secara mendalam maka tidak akan habis untuk menceritakanya.Banyak dari kalangan masyarakat yang menyakini kebenaran dan keampuhanya cerita ini. Namun tidak ada yang tidak mungkin dari itu semua.Sebagai bagian dari keniscayaan-NYa kita hanya perlu untuk merenungkan dan menggambil hikmah dari cerita tersebut. Yang baik dan yang dapat kita ambil untuk pembelajaran maka kita berhak untuk mengambilnya. Namun jika dirasa kurang tetap bagi anda maka bolehlah sekali untuk mengklarifikasi dan menanykan pada ahlinya.

Sebenarnya cerita AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW dimulai dari perlakuan kejadian yang dialami oleh seseorang yang memang menyaksikan dan melihat sendiri. Dan lama kelamaan kejadian ini menyebar secara cepat dari mulut kemulut dan akhirnya bisa sampai pada semua orang untuk mengetahuinya. Dan terlepas dari itu semua kharismatik dari tokoh dalam cerita ini memang tidak diragukan lagi. Kemasyuranya dalam dunia spiritual dan intelektual memang mempuni.Sehingga sangat patut jika beliau mendapat gelar dan julukan yang tinggi.

Dan setiap daerah pasti punya cerita yang mungkin hampir mirip dengan cerita AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW ini, namun dari kemiripan ini pasti ada segi yang dapat kita renungkan bersama-sama.Ceritanya sampai sepanjang masa masih dikenang oleh masyarakat sekitar nya dan bahkan jika tiap penduduk sekitar suruh untuk menceritakanya.Maka dengan lancar dan mudah mereka akan menceritakan kejadian tersebut.Namun apakah kisah ini memang seperti ini adanya atau terlalu dibuat-buat kembali lagi pada kenyakinan kita masing -masing.

Dan untuk mengetahui cerita yang lebuh detailnya ada baiknya kita langsung saja baca ulasan berikut ini , semoga dengan ini kita diberikan kemudahan dalam memangaminya.Selamat membaca kisah selangkapnya dibawah ini

AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW.

Salah seorang santri Rubath Tarim li al-Habib Salim bin Abdullah asy-Syathiri, Ustadz Mochammad Nuzulul Bawwakiel Muttaqien, suatu hari mengkisahkan tentang “Air pemandian Rasulullah Saw.”
Alkisah, asy-Syaikh al-Fadhil Mutwalli asy-Sya’rawi pernah diundang untuk menghadiri sebuah acara muktamar di Arab. Dalam majelis muktamar tersebut, asy-Syaikh mengajukan pertanyaan yang tidak pernah disangka oleh semua hadirin, terutama pimpinan muktamar. Beliau bertanya: “Ke manakah air bekas pemandian jenazahnya Rasulullah Saw.?”
Semua hadirin seperti terbungkam, tidak ada satu pun ulama yang menjawabnya. Hingga pimpinan muktamar berkata: “Ya Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi, pertanyaan ini perlu jawaban dan pembahasan. Aku akan menjawabnya pada pertemuan mendatang.”
Sepulang dari muktamar, pemimpin majelis muktamar itu menjadi gelisah. Dengan segala kemampuannya dicarilah dalalah dan kisah atau riwayat yang menunjukkan tentang “Ghusalah”, air bekas pemandian jasad Rasulullah Saw. itu.
Namun semua kitab pun tanpa bergeming dan enggan memberikan jawban. Di tengah kecapekannya, tertidurlah pemimpin majelis muktamar itu. Dan di dalam mimpinya ia bertemu Rasulullah Saw. yang sedang bersama seorang lelaki agung, membawa sebuah qindil (lentera). Sang pemimpin muktamar sangat senang sekali dan berkata: “Ya Rasulullah, ke manakah air bekas pemandian jasad Tuan Saw.?”
Rasulullah Saw. tersenyum dan menjawab: “Bertanyalah kepada shahibul qindil” (sembari menunjuk lelaki yang membawa lentera).
Maka bertanyalah sang pemimpin majelis muktamar kepada lelaki itu, dan dijawab dengan suara yang halus dan jelas: “Air bekas pemandian jasad Rasulullah Saw. naik ke langit, kemudian turunlah air itu ke bumi. Tidak akan jatuh percikan air itu di bumi kecuali Allah menjadikannya sebuah masjid.”
Terbangunlah sang pemimpin muktamar itu dengan wajah berseri dengan ditemukannya jawaban dari pertanyaan Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi. Dan ketika pertemuan muktamar dilanjutkan, sang pimpinan muktamar itu berkata kepada Syaikh asy-Sya’rawi: “Aku telah menemukan jawaban dari pertanyaan Anda ya Syaikh.”
Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi menyahut: “Apakah itu jawaban dari shahibul qindil?”
Pemimpin muktamar itu bertanya: “Apakah Anda mengetahuinya?”
Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi berkata: “Akulah shahibul qindil itu.”
Silakan halal dicopas atau dishare. Mari bacakan surat al-Fatihah dan shalawat, Allahumma shalli wasallim wabarik 'ala Sayyidina Muhammadin wa'ala Aalihi wa Shahbihi ajma'in.

SUMBER

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW

0 comments:

Post a Comment