Monday, August 24, 2015

Secuil Kisah Perjalanan Sang Raja Sanubari

Secuil Kisah Perjalanan Sang Raja Sanubari dalam coretan Cerita Auliya ini jika dikupas secara mendalam maka tidak akan habis untuk menceritakanya.Banyak dari kalangan masyarakat yang menyakini kebenaran dan keampuhanya cerita ini. Namun tidak ada yang tidak mungkin dari itu semua.Sebagai bagian dari keniscayaan-NYa kita hanya perlu untuk merenungkan dan menggambil hikmah dari cerita tersebut. Yang baik dan yang dapat kita ambil untuk pembelajaran maka kita berhak untuk mengambilnya. Namun jika dirasa kurang tetap bagi anda maka bolehlah sekali untuk mengklarifikasi dan menanykan pada ahlinya.

Sebenarnya cerita Secuil Kisah Perjalanan Sang Raja Sanubari dimulai dari perlakuan kejadian yang dialami oleh seseorang yang memang menyaksikan dan melihat sendiri. Dan lama kelamaan kejadian ini menyebar secara cepat dari mulut kemulut dan akhirnya bisa sampai pada semua orang untuk mengetahuinya. Dan terlepas dari itu semua kharismatik dari tokoh dalam cerita ini memang tidak diragukan lagi. Kemasyuranya dalam dunia spiritual dan intelektual memang mempuni.Sehingga sangat patut jika beliau mendapat gelar dan julukan yang tinggi.

Dan setiap daerah pasti punya cerita yang mungkin hampir mirip dengan cerita Secuil Kisah Perjalanan Sang Raja Sanubari ini, namun dari kemiripan ini pasti ada segi yang dapat kita renungkan bersama-sama.Ceritanya sampai sepanjang masa masih dikenang oleh masyarakat sekitar nya dan bahkan jika tiap penduduk sekitar suruh untuk menceritakanya.Maka dengan lancar dan mudah mereka akan menceritakan kejadian tersebut.Namun apakah kisah ini memang seperti ini adanya atau terlalu dibuat-buat kembali lagi pada kenyakinan kita masing -masing.

Dan untuk mengetahui cerita yang lebuh detailnya ada baiknya kita langsung saja baca ulasan berikut ini , semoga dengan ini kita diberikan kemudahan dalam memangaminya.Selamat membaca kisah selangkapnya dibawah ini


Secuil Kisah Perjalana Sulthonul Qulub.

Habib Munzir Almusawa :
saudaraku tercinta, sekitar tahun 1992-1993, hidup saya jauh dari agama, bergaul dg kelompok yg hari harinya adalah berkelahi, dan perbuatan buruk lainnya, ibunda saya menangis dimalam hari berdoa kepada Allah agar saya berubah, maka dalam beberapa hari saya mulai kena cacar air, setelah itu kemudian saya mulai berubah dan bertobat, saya meninggalkan itu semua dan memperbanyak dzikir dirumah, dg segala macam ibadah hingga sekolah pun tidak mau hingga saya putus sekolah.
maka hal ini membawa kesedihan pula bagi ayah bunda, sampai bunda menangis, dan berkata dg lirih,. memang nak, kalau kata orang, jika banyak anak, pastilah ada yg tidak sukses..bunda menangis..
hari hari saya adalah menjadi penjaga losmen milik ibunda karena ayahanda sudah pensiun, saya menyapu, membawakan air, teh, makanan, mengganti seprei dll.
malam malam saya penuh renungan akan masa depan yg suram, lampu lentera dikebun didekat kamar saya selalu saya pandangi berjam jam setiap malam sambil merenungkan nasib yg tak menentu.
saya tercambuk, maka saya malu dan berusaha memperdalam ilmu syariah di beberap ponpes namun keseringan tidak betah karena saya mempunyai penyakit asma yg akut, butuh pengawasan dan pengobatan yg berkesinambungan,
akhirnya saya terus larut dg buku yg menceritakan tentang Rasul saw, diantaranya adalah buku syamail Muhammadiy, (budi pekerti Rasul saw), yg membuat saya semakin cinta dg Rasul saw,
tiap malam saya maulid nabi saw sendiri, dan kemudian mulai memilih belajar ke Makkah, pada Almarhum Almaghfurlah Al Allamah Alhabib Muhammad bin Alwi Al Malikiy, namun kandas karena saya tak punya basis syariah bahkan bahasa arab pun tidak tahu, maka saya harus mondok bertahun tahun dulu, barulah mungkin bisa kesana jika saya sukses.
cita cita itu kemudian berubah, karena hati semakin cinta pada Rasul saw, maka saya ingin belajar pada Al Allamah Al Musnid Alhabib Zein bin Ibrahim bin smeith di Madinah Almunawarah, agar dekat dg makam Rasul saw,
namun sebelum cita cita itu tercapai, Allah swt memilihkan saya untuk berangkat ke kota Tarim, Hadramaut, Yaman selatan, kota para ulama, shalihin dan para wali, karena sebelumnya para ulama bertebaran di Makkah dan Madinah dan Baghdad, juga mesir, namun setelah perpecahan, pembunuhan dan fitnah yg muncul membuat Imam Ahmad Al Muhajir membawa keluarganya pindah ke yaman selatan, kota Tarim, sangat terpencil, kota yg sederhana, namun kemudian dipenuhi para ulama, shalihin dan para wali Allah swt, hingga para walisongo yg datang kesinipun berdatangan dari tarim, menuju Gujarat, dan sebagian meneruskan ke pulau jawa.
saya belajar di Tarim dan pada beberapa minggu kemudian pecah perang antara yaman utara dan yaman selatan, namun kami aman karena guru mulia saya tidak mencampuri politik, maka yg menimpa kami adalah kurangnya makanan, listrik, dan air.
dan putusnya hubungan telepon dan surat menyurat antar negara, maka saya sebatang kara, mengabdi pada guru mulia semampunya, hingga tahun 1998, saya kembali dari Tarim dan mulai berdakwah, system dan metode yg diajarkan Rasul saw dan diajarkan guru Mulia kita sama, yaitu kelembutan, sedangkan kekerasan hanya dipakai jika sudah terjebak tak ada jalan lain, dulu majelis saya hanya dihadiri 9 orang saja, kemudian semakin banyak, dan terus tumbuh dg pesatnya, hingga kini sudah mencapai jutaan,
dari mulai ulama ulama sepuh, kyai kyai besar dan berpengaruh, sampai pejabat pejabat tertinggi menghormati hamba, orangorang yg dulu menghina hamba kini berubah berbalik ingin jumpa, minta doa, minta nasihat, minta bantuan dlsb
kesuksesan gemilang ini adalah anugerah Allah lewat doa ibunda saya..
itulah sekilas riwayat hidup si centeng losmen yg hina, makna dibelakang ini semua adalah masa depan bisa berubah tanpa kita ketahui,
hati hati dg orang miskin dan hina, bisa saja suatu saat ia dilimpahi anugerah kekayaan dan menjadi atasan kita, dan jangan cemburu pada orang orang kaya, bisa saja mereka hidup mewah di dunia namun kematiannya adalah masuk kedalam penjara di alam kubur
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Secuil Kisah Perjalanan Sang Raja Sanubari

0 comments:

Post a Comment